Semua berawal dari sebatang penjor.
Seminggu sebelum Galungan, sebuah keluarga di gang kecil di Ubud hendak memasang penjor dan mendapati gumpalan kabel menggantung tepat di tempat bambu itu harus melengkung. Sebagian masih aktif, kebanyakan sudah mati. Mereka menelepon tiga provider internet. Jawabannya sama: bukan punya kami.
Penjornya berdiri miring. Di Canggu pada minggu yang sama, sebuah kabel fiber melintang di Jalan Batu Bolong selama empat hari. Ratusan motor menghindarinya. Semua orang melihat. Tidak ada yang mengabari pemiliknya, karena tidak ada yang tahu siapa pemiliknya.
Yang membuat kami terkejut: pemiliknya sebenarnya bisa membereskan dalam satu jam. Tim lapangan keluar setiap hari. Yang kurang bukan niat, tapi pesan yang bilang ini, yang ini, punya kalian.
Jadi kami membangun titik temunya. Siapa pun bisa kirim pin dan foto. Provider membagikan jalur kabel mereka secara tertutup, sehingga kami tahu kabel siapa itu dan langsung meneruskan laporan ke Telegram tim lapangan mereka. Setelah beres, pelapor melihat foto hasilnya.
Tanpa saling menyalahkan, tanpa formulir panjang, tanpa nada tunggu. Jalan terpendek dari awas, kabel! ke jalan yang rapi.
Keluarga dan jalan dalam cerita ini hanya ilustrasi. Masalahnya nyata.